TATSQIF : HUKUM TRANSFER PAHALA BACAAN AL QURAN




Oleh : Muhammad Ajib, Lc, MA
=================================================================================
 
1. Dalil Transfer Pahala
Salah satu permasalahan khilafiyah yang sering dibicarakan oleh masyarakat kita adalah masalah mengirim pahala bacaan Al-quran untuk mayit. Sebagian kalangan menolak hal itu bahkan menghukuminya sebagai perbuatan bid’ah. Dan sebagian kalangan lainnya menganggap hal itu termasuk sesuatu yang diperbolehkan dalam agama. Hal ini wajar saja terjadi di masyarakat kita, sebab masalah mengirim pahala untuk mayit ini memang sudah menjadi tradisi dan termasuk permasalahan khilafiyah yang dari dahulupun para ulama-ulama kita sudah berbeda pendapat. Sebenarnya yang didebatkan para ulama salaf bukan masalah boleh atau tidaknya mengirim pahala bacaan Al-quran untuk mayit. Tapi lebih kepada apakah bacaan Al-quran yang dihadiahkan pahalanya untuk mayit itu sampai atau tidak pahalanya.  Nah, para ulama salaf kita berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan perlu kita ketahui bahwa masalah ini sudah dibahas oleh ulama kita secara detail di dalam kitab-kitab turost mereka masingmasing. Bahkan para ulama kita juga telah menjelaskannya secara rapi beserta dalil-dalilnya. Kita sebagai orang yang awam akan ilmu agama dan bahkan sangat awam sekali akan dalil-dalil, maka cukup bagi kita untuk merujuk kepada aqwal para ulama salaf saja. Kita tidak usah lagi capek capek untuk mencarikan dalil-dalil yang kita gunakan untuk memperkuat pendapat kita. Karena memang para ulama kita ketika membahas suatu permasalahan ya yang mereka pakai adalah dalil-dalil dari Al-quran dan hadits.
 
A. Dalil Pertama
Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah kirim pahala bacaan al-Quran. Dalam hal ini kami cukupkan saja dengan beberapa dalil saja. Dalil pertama firman Allah SWT di dalam Al-Quran:  Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo'a, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudar-saudar kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami." (QS AlHasyr: 10).
 
B. Dalil Kedua
Dari Ma'qil bin Yasar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bacakanlah surat Yaasiin atas orang yang meninggal di antara kalian." (HR Abu Daud, An-Nasaa'i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
Jantungnya Al-Quran adalah surat Yaasiin. Tidaklah seorang yang mencintai Allah dan negeri akhirat membacanya kecuali dosa-dosanya diampuni. Bacakanlah (Yaasiin) atas orang-orang mati di antara kalian." (Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Hadits ini dicacat oleh Ad-Daruquthuny dan Ibnul Qathan, namun Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkannya.
 
C. Dalil Ketiga
Ibnu Umar ra. Suka sekali membacakan bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah di atas kubur sesudah mayat dikuburkan. (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan). 
 
D. Dalil Keempat
Dari Abi Ad-Darda' dan Abi Dzar ra. berkata, "Tidaklah seseorang mati lalu dibacakan atasnya surat Yaasiin, kecuali Allah ringankan siksa untuknya." (HR Ad-Dailami dengan sanad yang dhaif).
 
2 . Hukum Transfer Pahala
Kalau saja kita mau membaca kitab-kitab turost yang ditulis oleh para ulama-ulama kita maka akan kita temukan pembahasan yang sangat menarik sekali mengenai hal ini.  Mungkin penyakit kita selama ini belajar agama hanya mendengar orang bilang katanya katanya saja. Tanpa menyebutkan sumber aslinya dari kitab apa dan ulama siapa yang mengatakannya.  Maka dari itu mari kita budayakan semangat untuk membaca dan mempelajari kitab-kitab turots para ulama kita. Dengan demikian berarti kita telah mengikuti ajaran para ulama salaf yang mana mereka ini adalah para ahli waris nabi. Nah, di dalam bab ini akan saya paparkan beberapa pendapat para ulama-ulama salaf dan sebagian fatwa ulama kontemporer mengenai apakah pahala bacaan Al-quran itu sampai atau tidak kepada mayit jika kita niatkan pahalanya untuk si mayit.
 
A. Pahala Sampai Kepada Mayit
 
1. Imam Ibnu Taimiyah 
 
Adapun bacaan Al-Quran, shodaqoh dan ibadah lainnya termasuk perbuatan yang baik dan tidak ada pertentangan dikalangan ulama ahli sunnah wal jamaah bahwa sampainya pahala ibadah maliyah seperti shodaqoh dan membebaskan budak. Begitu juga dengan doa, istighfar, sholat dan doa di kuburan. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, sholat dan bacaan al-Quran. Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit.
 
2.Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah
Dalil-dalil ini sangat jelas sekali bahwa amal ibadah itu sampai kepada mayit jika yang melakukan adalah orang yang masih hidup. Jika orang itu menghadiahkan pahalanya buat saudaranya maka pahalanya sampai seperti sampainya pahala puasa sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi. Allah telah menyampaikan pahala puasa bagi mayit maka begitu juga dengan pahala bacaan. Ibadah itu dibagi menjadi dua. Yaitu ibadah maliyah dan ibadah badaniyah. Sungguh Allah telah menjelaskan tetang sampainya pahala ibadah maliyah seperti shodaqoh dan pahala badaniyah seperti puasa dan begitu juga pahala haji yang merupakan ibadah badaniyah sekaligus ibadah maliyah. Dan Hal ini berdasarkan nash nash yang ada.
 
3. Syaikh Al-Utsaimin
Ada dua pendapat diantara ulama : yang pertama bahwa pahala ibadah badaniyah seperti sholat dan bacaan alquran itu sampai kepada mayit sebgaimana sampainya pahala ibadah maliyah. Dan ini adalah madzhab abu hanifah, ahmad bin hanbal dan sebagian ulama syafiiyah dan malikiyah. Dan ini adalah pendapat yang benar berdasarkan dalil-dalil. Pendapat yang kedua mengatakan tidak sampainya ibadah badaniyah. Dan ini pendapat masyhur imam syafiiy dan imam malik.
 
4. Syaikh Al-Albani  
Jika yang membaca alquran itu adalah seorang anak untuk bapak dan ibunya maka bacaanya bermanfaat bagi si mayit. Adapun jika orang lain yang membacanya maka tidak bermanfaat bacaan mereka itu bagi si mayit.
 
5. Imam Nawawi
Para ulama berbeda pendapat mengenai sampainya pahala bacaan alquran. Yang masyhur dari imam syafiiy adalah tidak sampai. Adapun imam ahmad bin hanbal dan beberapa ulama syafiiyah mengatakan sampai pahalanya. Maka pendapat yang terpilih sebaiknya seorang yang membaca alquran hendaknya membaca doa “ya Allah sampaikanlah pahala bacaan ini kepada fulan”.5
Didalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab juga beliau jelaskan sebagai berikut :
 
Pendapat pilihan kami adalah sampainya pahala bacaan jika seseorang meminta kepada Allah untuk menyampaikan pahalanya. Karena ini termasuk doa. Dan doa itu termasuk perkara yang disepakati kebolehannya dan si mayit mendapatkan manfaat dari doa tersebut
 
6. Imam Ibnu Qudamah 
Ini adalah dalil-dalil yang sohih yang menunjukkan bahwa mayit dapat menerima manfaat pahala semua ibadah. karena puasa,haji,doa,istighfar adalah ibadah badaniyah. Sungguh allah telah menyampaikan pahalanya kepada si mayit. Begitu juga pahala ibadah lainnya.
 
B. Pahala Tidak Sampai Ke Mayit 
1. Imam Ibnu Katsir 
 
Allah berfirman “ dan tidaklah manusia itu mendapatkan sesuatu kecuali dari apa yang dia kerjakan”. Maka imam syafiiy menyimpulkan bahwa bacaan alquran itu tidak sampai kepada mayit. Karena rosululloh saw tidak pernah menganjurkannya. Bahkan para sahabat pun tidak melakukannya. Seandainya itu adalah perkara yang baik pastilah mereka segera melakukannya. Dan perkara ibadah hanya berlandaskan nash-nash yang ada. Tidak ada yang namanya qiyas atau pendapat. Adapun doa dan sodaqah maka sudah menjadi ijma ulama akan sampainya pahala ke mayit dan juga ada nash yang menjelaskannya. 
 
2. Syaikh Bin Baaz  
Adapun bacaan alquran maka para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang rojih adalah bahwa bacaan itu tidak sampai kepada mayit. Sebab Nabi SAW tidak pernah melakukannya dan para sahabat pun juga tidak melakukannya menurut sepengetahuan kami.
 
C. Benarkah Imam Syafi’iy Mengatakan Tidak Sampai? 
Apabila kita perhatikan redaksi dari Al-Allamah Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi dan redaksi Al-Imam AnNawawi ketika menyebutkan pendapat Al-Imam AsySyafi’I maka akan kita temukan kalimat “ Al-Masyhur min madzhabi Asy-Syafiiy”. 
 
Ternyata jika kita pahami lebih dalam lagi bahwa kalimat “Al-Masyhur” ini menunjukkan bahwa disana ada qoul Al-Imam Asy-syafiiy yang tidak Masyhur.  Nah qoul yang tidak masyhur inilah nanti dipahami oleh sebagian kalangan ulama syafiiyah bahwa maksud dari qoul nya Al-Imam Asy-Syafiiy tidak sampai adalah jika tidak diniatkan bacaannya atau tidak dibaca dihadapan si mayit. Karena begini, justru dikitab yang lain disebutkan bahwa Al-Imam Asy-Syafiiy menganjurkan seseorang untuk membaca Al-quran disisi mayit. Hal ini disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab Riyadhus Sholihin halaman 295 :
 
Imam syafiiy berkata “ dan dianjurkan untuk membacakan alquran di sisi mayit, jika sampai khatam maka itu lebih baik”
 
Maka dari itu Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshori dan Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan bahwa maksud dari kalam nya Al-Imam Asy-Syafiiy bahwa bacaan Alquran itu tidak sampai adalah jika tidak diniatkan atau tidak dibacakan dihadapan si mayit. Berikut ini penjelasan Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshori di dalam kitab Fathul Wahhab juz 2 halaman 23 : 
 
Adapun pahala bacaan maka menurut imam nawawi sampai pahalanya. Adapun yang masyhur dari imam syafiiy tidak sampai pahalanya. Maksudnya adalah jika tidak dibacakan di dekat si mayit atau tidak diniatkan pahalanya. Tapi jika diniatkan maka pahalanya sampai. 
 
Begitu juga Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan di dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro juz 2 halaman 27 :
Perkataan imam syafiiy maksudnya adalah jika alquran itu tidak dibaca dihadapan si mayit dan tidak berdoa setelahnya. 
 
Ini adalah penjelasan sebagian ulama syafiiyah yang menjelaskan qoul nya Al-Imam Asy-Syafi’iy. Dalam hal ini Al-Imam An-Nawawi lebih memilih pendapat bahwa bacaan Al-Quran itu sampai kepada mayit dengan cara berdoa kepada Allah untuk menyampaikan pahalanya kepada si mayit. Berikut ini perkataan Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab AlMajmu’ Syarh Al-Muhadzdzab : 
 
Pendapat pilihan kami adalah sampainya pahala bacaan jika seseorang meminta kepada Allah untuk menyampaikan pahalanya. Karena ini termasuk doa. Dan doa itu termasuk perkara yang disepakati kebolehannya dan si mayit mendapatkan manfaat dari doa tersebut. Wallahu a’lam.